Jumat, 28 November 2014

Bermimpi Besar part 1

Tentang "Mimpi Besar", sebelumnya saya tidak pernah memiliki mimpi yang tetap/pasti. Selalu berubah. Jadi, ketika ada pertanyaan "Apa mimpi mu?" saya pasti bingung. Jawaban standart yang bisa jawab hanya "ingin bahagia, sukses,kaya.dll". Tapi ternyata jawaban saya bukanlah jawaban yang cukup tepat dan kuat. Kita harus memiliki mimpi yang jelas dan detail. Semakin jelas dan detail maka kita akan semakin terpacu untuk meraih setiap kesempatan untuk mewujudkan mimpi mereka.

Saya ingin sharing tentang mimpi saya. Saya bermimpi sebelum usia 30 tahun, saya dapat menjalankan usaha sendiri dan memiliki kebebasan waktu untuk menikmati hidup bersama orang-orang yang saya kasihi. Apakah mimpi saya dapat terwujud? Pasti dapat dan saya yakin saya mampu. Memang saya tidak tahu kapan mimpi itu terwujud. Tapi saya ingin berusaha menggapai impian saya. Lebih baik saya berusaha daripada saya hanya berdiam diri merenungi nasib yang seharusnya dapat kita ubah.

Saya bukan berasal dari keluarga yang kaya raya. Keluarga kami hanyalah keluarga dengan strata kehidupan yang cukup. ya, hanya cukup dan tidak berlebih. Dari 5 bersaudara hanya 2 anak yang mencicipi bangku kuliah, salah satunya saya. Dulu saya hanya berpikir dengan saya memiliki pekerjaan yang baik, maka kondisi finansial saya akan membaik. Orang lain melihat bahwa kehidupan saya saat ini cukup baik. Bisa travelling ke beberapa kota di Indonesia untuk urusan pekerjaan, dan meilhat lamanya saya sudah bekerja di kantor saya. Ternyata passion saya meragukan pendapat saya tentang bekerja. Akhirnya saya menemukan apa mimpi saya. Saya ingin memiliki bisnis sendiri! Meski masih dalam proses menjalaninya saat ini, saya akan terus berjuang meraih mimpi saya. Cerita saya yang berikutnya akan saya bagikan tentang bagaimana proses yang harus saya jalani.

28.11.2014

Selasa, 18 November 2014

Kuliner Aceh

Aceh. Salah satu kota yang berada di Indonesia ini memiliki beragam kuliner yang cukup lezat. Sebetulnya kisah perjalanan saya ke Aceh ini sudah cukup lama (awal tahun 2014) karena ada tugas dinas kantor kesana, tapi saya baru bisa berbagi sekarang hehehehe... Jadi langsung aja ya sharing perjalanan saya selama di Aceh.
Wisata kuliner di Aceh? Wah... Sangat beragam dan cukup bersahabat dengan lidah saya. Kuliner pertama yang saya nikmati adalah sate kerbau. Hem... Cukup unik dan jarang saya mendengera kuliner yang satu ini. Biasanya saya menikmati sate ayam /  sapi. Berada dekat hotel medan, anda akan menmukan sebuah warung yang menjual sate lembu ini. Rasanya cukup lezat dan agak manis. Dibandingkan sate sapi, sate kerbau memang lebih berserat dan tekstur dagingnya lebih padat. Tapi tenang, daging kerbau ini sudah diolah dengan baik sehingga tidak alot. Ditemani dengan bumbu kacang yang sudah diolah tanpa kecap dan jeruk nipis, rasa dari sate kerbau ini menjadi lebih gurih dan nikmat. Pilihan lain selain sate kerbau, anda dapat menikmati menu sup tapi saya lupa nama sup tsb (hehehehe... maaf ya). Sup daging ini juga diolah dari daging kerbau. Mirip dengan sup buntut, tapi tidak memakai sayur. Rasa rempah dan aroma daging yang lezat menjadikan sup ini terasa begitu nikmat.

Sate lembu - dekat hotel medan
  
Berikutnya, saya harus melalui perjalanan yang cukup jauh dari pusat kota untuk mengunjungi suatu daerah. Nama tempat tersebut adalah Puncak Aceh Geurue Aceh Jaya. Melewati jalan yang cempit dan curam, tidak membuat saya stress atau jenuh karena hamparan sawah dan pantai serta laut yang indah membuat saya cukup menikmati perjalanan darat ini. Setelah kurang lebih 2 jam perjalanan, saya tiba di sebuah warung di pinggir jalan untuk menikmati buah durian yang legit tapi sangat murah. Nilai plus lainnya, saya dapat menikmati durian yang legit dengan pemandangan laut yang elok dan angin yang semilir sejuk. Kepenatan dan beban pikiran seakan terlupakan sesaat ketika saya menikmati pemandangan alam yang sungguh luar biasa indah. Keunikan lainnya adalah saya dapat berinteraksi dengan hewan liar yang ada di tempat ini, yaitu beberapa ekor kera. Saya kurang paham jenis-jenis kera. Namun, hewan liar ini cukup bersahabat berinteraksi dengan manusia, asal kita mau berbagi makanan dengan mereka (hehehehehe....)

Puncak Aceh Geurue Aceh Jaya

Kuliner ketiga. Kuliner yang satu ini adalah favorite saya, Mie Aceh. Seperti namanya, kuliner ini merupakan salah satu kuliner khas atau andalan di Aceh. Olahan dari makanan khas ini cukup beragam. Jika anda suka dengan seafood maka anada bisa mencoba Mie Aceh udang / cumi / kepiting. Atau bagi anda yang suka dengan olahan daging kambing, menu Mie Aceh daging kambing juga bisa menjadi pilihan. Setelah melihat menu, akhirnya saya memutuskan untuk menikmati Mie Aceh telor. Tidak perlu menunggu lama untuk menikmati sajian ini. Mie Aceh yang sudah matang ditaruh di sebuah piring yang beralaskan daun pisang ditemani dengan acar dan keripik melinjo/emping, rasa mie sungguh nikmat. Bumbu yang kaya akan rempah dengan rasa yang agak pedas membuat saya semakin menikmati hidangan ini. Harga yang ditawarkan ditempat ini juga tidak terlalu membuat kantong kering. Selain Mie Aceh, kedai Razali ini juga menyediakan menu pendamping lainnya seperti martabak, canai, dan cemilan kerupuk. Anda dapat menemukan rumah makan ini di 2 tempat. Pertama, beralamatkan di Jl. T.P.Polem no 83-85 Banda Aceh. Kedua, berada di Jl. Soekarno Hatta no.2A-2B Lampeuneurut-Aceh besar.

 Mie Aceh Razali

Kuliner wisata sudah. Kali ini saya ingin membagikan informasi lokasi mana saja yang dapat menjadi pilihan untuk dikunjungi. Karena waktu saya tidak terlalu banyak di Aceh. Saya hanya dapat memberikan info beberapa tempat saja. Jika membahas tentang Aceh, tentu anda masih ingat dengan kejadian banjir Tsunami yang pernah melanda kota ini. Begitu banyak kerusakan dan korban jiwa yang disebabkan bencana lama tersebut. Namun dibalik muzibah tersebut, terselip beberapa kisah menarik. Pertama adalah Masjid Baiturrahman. Tempat beribadah ini menyimpan kisah yang menarik. Masjid ini terletak di pusat kota Aceh dan pada saat terjadi banjir tsunami hampir seluruh bangunan dipusat kota ini hancur dan ikut terbawa arus banjir. Namun ajaib, Masjid Baiturrrahman ini tetap berdiri kokoh meski diterjang banjir besar. Saya pun menyempatkan diri untuk mengabadikan moment di depan pintu gerbang masuk Masjid Raya Baiturrahman.

Masijd Raya Baiturrahman
Lokasi kedua adalah Monumen PLTD Apung. Monumen ini adalah sebuah kapal induk besar yang terdampar karena hanyut oleh arus banjir tsunami dan kapal ini juga memiliki jasa karena berhasil menyelamatkan jiwa beberapa korban yang hanyut oleh arus banjir tsunami. Kapal besar ini sengaja tidak dipindah kembali ke tengah lautan. Selain ukurannya yang sangat besar dan lokasi terdamparnya berada ditengah-tengah lingkungan rumah warga, kapal ini dijadikan monumen sebagai pengingat kisah bahwa didaerah tersebut pernah mengalami terjangan banjir tsunami. 

PLTD Apung










Perjalanan saya di Aceh pun berakhir setelah pekerjaan dinas kantor saya pun berakhir. Banyak cerita dan pengalaman yang saya dapatkan dari kota ini. Semoga suatu saat bisa kembali menikmati suasana dan kisah menarik lainnya dari kota Aceh.